Farah.ID
Farah.ID

Si Kecil Tai Tzu-ying, Ratu Bulutangkis Taiwan Bergelar Doktor

LAPORAN: AGUS DWI
  • Selasa, 25 Mei 2021, 15:52 WIB
Si Kecil Tai Tzu-ying, Ratu Bulutangkis Taiwan Bergelar Doktor
Pebulutangkis putri nomor 1 Taiwan saat ini, Tai Tzu-ying/Ist
Urusan bulutangkis, Taiwan termasuk negara yang cukup diperhitungkan di kancah dunia. Atlet tepok bulu angsa dari Taiwan pun kerap menorehkan prestasi di berbagai ajang kelas dunia.

Salah satunya adalah Tai Tzu-ying, pemain yang memenangkan kejuaraan tunggal putri terbanyak di turnamen super bulu tangkis (super 500 ke atas) dalam sejarah. Pun pemegang rekor poin tertinggi di tunggal putri Federasi Bulu Tangkis Dunia (Badminton World Federation, BWF).

Pebulutangkis putri yang saat ini menduduki peringkat pertama dunia dalam jumlah poin ini, ternyata juga cerdas dalam urusan akademis.

Tzu-ying tidak hanya memiliki gelar master, tetapi juga berhasil melanjutkan studi untuk meraih gelar doktor. Ia adalah "juara olahraga" yang menekuni bidang olahraga dan akademis secara bersamaan.

Bakat istimewa Tzu-ying turun dari sang Ayah yang suka bermain bulutangkis di waktu senggang. Sehingga lapangan bulutangkis sudah menjadi taman hiburan bagi Tzu-ying dan adiknya saat mereka masih kecil. Tai Tzu-ying pun mulai bermain bulutangkis sejak kelas 3 SD.

Kedekatan Tzu-ying pun bisa terlihat dari 2 tato di tubuhnya.
Tato "ular" di lengan kiri Tai Tzu-ying merupakan zodiak ayahnya, dan empat huruf mandarin yang berarti "percaya pada diri sendiri" ditulis sendiri oleh ayahnya.

Bakat istimewanya pula yang membawa dirinya memenangkan juara grup kedua dari Turnamen Bulutangkis Nasional Taiwan saat kelas 6 SD.

Tai Tzu-ying mulai mengikuti kompetisi internasional pada usia 15 tahun. Ikut Olimpiade untuk pertama kalinya di usia 18 tahun dan memenangkan juara Turnamen Super pertama kali dalam karirnya. Dia disebut sebagai "gadis jenius" berkat hasil gemilangnya.

Gaya permainan Tai Tzu-ying yang paling mengesankan adalah berbagai gerakan tipuan di lapangan yang sering kali mengecoh lawan mainnya berlari ke arah yang salah. Atau langsung terdiam di tempat tanpa mampu menyelamatkan bola.

Sebenarnya, ketika Tai Tzu-ying mulai mendapat latihan formal bulutangkis, banyak pelatih yang mencoba membenahi gerakannya yang tidak formal ini, namun ia bersikeras dengan cara permainannya sendiri. Dia tidak sependapat bahwa setiap pemain harus mengikuti pola yang telah ditetapkan, yang membuatnya dijuluki "Ahlinya Tipuan" dan "Pesulap Lapangan".

Meski demikian, perjalanan Tai Tzu-ying saat mengikuti turnamen tidak selalu berjalan mulus. Ia juga pernah mengalami frustrasi dan menyalahkan diri sendiri karena mengalami kekalahan. Namun Tai Tzu-ying percaya bahwa setiap kekalahan akan menjadi bekal untuk kemenangan di masa depan.

Kekalahan yang membuat ia terus mengasah kemampuannya dengan terus-menerus, meninjau tayangan ulang permainan, serta mengintrospeksi kesalahan.

Bagi Tai Tzu-ying, musuh terbesar bukanlah lawan main yang di sisi lain lapangan, melainkan dirinya sendiri. Tidak peduli berapa banyak kegagalan dan frustrasi, Tai Tzu-ying selalu memompa semangat dengan motto "percaya pada diri sendiri".

Berkat motto hidupnya itu, dalam beberapa tahun terakhir, Tai Tzu-ying terus menerus menempa semangat juang ketika bertanding hingga mampu menorehkan banyak prestasi luar biasa.

Pada 2018, ia mewakili Taiwan di Asian Games yang diadakan di Indonesia dan memenangkan medali emas bulutangkis pertama dalam sejarah Asian Games Taiwan di final tunggal putri.

Pada 2019, ia menyamai rekor 20 juara Turnamen Super yang diraih oleh pemain putri China Wang Yihan. Disusul dengan memenangkan kejuaraan tunggal putri All England 2020 yang ketiga kalinya.

Selain mencetak rekor terbanyak (21 juara) Turnamen Super untuk tunggal putri, dalam pengumpulan poin ia mampu mengungguli pemain China Chen Yufei, lalu lima kali berada di posisi teratas peringkat pebulutangkis dunia, dan sampai saat ini merajai tunggal putri BWF dengan perolehan poin tertinggi.

Torehan ini membuat pebulutangkis berjuluk "ratu bulu tangkis" ini memperpanjang rekornya dalam jumlah pekan terbanyak nomor satu untuk pemain tunggal putri, membuat "rintangan si kecil Tai" semakin sulit untuk dikalahkan.

Toh pencapaian gemilang yang diraih Tai Tzu-ying tidak membuatnya menjadi sombong. Ia tetap disiplin, mengikuti jadwal latihan dengan teratur, menjaga kebugaran fisik dan kesehatan, serta berusaha untuk menjaga dirinya dalam kondisi terbaik.

Pebulutangkis terkenal Indonesia Jonatan Christie bahkan pernah memuji kemampuan Tai Tzu-ying. Lebih dari itu, tubuh kecil Tai Tzu-ying yang padat kuat dan perut six-pack membuat Jonatan Christie terkesan.

Tai Tzu-ying sendiri telah berkali-kali datang ke Indonesia untuk bertanding. Sejauh ini, ia sangat terkesan dengan sorakan meriah dari para penggemar Indonesia.

Ketika nanti Tai Tzu-ying datang kembali ke Indonesia untuk bertanding, berikanlah lambaian tangan dan bersorak padanya. Yakinlah si kecil Tai Tzu-ying akan membalasnya dengan senyuman lebar.
EDITOR: AGUS DWI

ARTIKEL LAINNYA